Bom Bunuh Diri: Ketika Identitas Diri Melebur ke dalam Kelompok

Posted: April 22, 2011 in Artikel
Tags: , , , ,

Bom Bunuh Diri: Ketika Identitas Diri Melebur ke dalam Kelompok

      Dalam satu dekade terakhir, telah terjadi banyak perisitiwa bom bunuh diri yang mengancam berbagai Negara di seluruh  dunia.  Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah Amerika Serikat (Wright, 2008), serangan bom bunuh yang terjadi di seluruh dunia meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan 25 tahun yang lalu.  Lebih dari 4/5 serangan tersebut terjadi dalam 7 tahun terakhir dan  mengakibatkan 21.350 orang meninggal dunia, serta sekitar 50.000 orang mengalami cedera.  Pada tahun 2008, pelaku bom bunuh diri telah melakukan 658 serangan di seluruh dunia.  Serangan bom bunuh diri yang terjadi secara global ini tidak hanya terjadi di zona-zona konflik, seperti Afghanistan dan Iraq, namun juga terjadi di hampir berbagai tempat, termasuk Indonesia. Terakhir, Jum’at, 15 April 2011, sebuah peristiwa bom bunuh diri kembali mengguncang negeri ini. Sebuah bom bunuh diri tiba-tiba meledak ketika para jamaah masjid Az-Zikra, Mapolresta Cirebon tengah bersiap-siap untuk melakukan Sholat Jum’at. Data terakhir menyebutkan, 30 orang luka-luka dan 1 orang tewas, yang merupakan pelaku bom bunuh diri tersebut.  Berbagai serangan yang terjadi tersebut memunculkan sebuah pertanyaan besar, mengapa seseorang mau melakukan bom bunuh diri?.  Berikut analisisnya.

Faktor Penyebab

Meminjam istilah Brian Jenkins (dalam buku Houghton, 2009), terorisme adalah sebuah drama teater.  Terorisme terdiri dari aksi-aksi yang dilakukan dengan cara yang dramatis untuk menarik publisitas dan membuat sebuah atmosfer yang menakutkan, dimana yang menjadi korban lebih banyak dari target korban yang sebenarnya diinginkan.  Terorisme adalah usaha untuk mengkomunikasikan sebuah pesan pada beberapa kelompok individu yang lebih luas, dan siapapun yang mereka bunuh sebenarnya tidak penting, yang paling penting adalah pesan yang ingin mereka berikan bisa sampai.  Dalam konteks terorisme Indonesia, pesan besar yang ingin mereka sampaikan adalah pemerintah Indonesia harus menggunakan hukum Islam, dengan tujuan jangka panjang negara Indonesia harus menjadi negara Islam.  Salah satu bentuk tindakan terorisme adalah bom bunuh diri.

Saya beranggapan bahwa perilaku bom bunuh diri ini salah satunya disebabkan oleh faktor situasional, yaitu identity fusionIdentity fusion adalah perasaan kebersatuan dengan kelompok yang mengajak seseorang untuk mengikat perasaan diri mereka ke dalam kelompok  (Swann, Gomez, Dovodio, Hart, & Jetten, 2009).  Para pelaku bom bunuh diri berada di dalam kelompok, dimana setiap kelompok memiliki nilai dan tujuan masing-masing yang dibagi kepada para anggotanya.  Ketika berada dalam kelompok ini mereka mendapatkan nilai-nilai kelompok, yang mana menurut Prof. DR. Hamdi Muluk, mereka memperoleh pemahaman tentang jihad yang keliru, serta beriringan dengan makin mengentalnya radikalisme keagamaan. Mereka bersama-sama dengan kelompok membuat strategi untuk melakukan serangan bom bunuh diri demi mencapai tujuan kelompok.  Ketika identitas diri para anggota kelompok teroris yang melakukan serangan bom bunuh diri ini melebur pada kelompok atau mengalami identity fusion, maka mereka akan melakukan pengorban-pengorbanan istimewa, seperti menjadi pelaku bom bunuh diri demi kepentingan kelompoknya, tak peduli bahwa tindakan yang sebenarnya mereka lakukan adalah tindakan yang salah di dalam norma agama dan sosial.

Pernyataan bahwa perilaku bom bunuh diri disebabkan oleh identity fusion, diperkuat oleh bukti penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Swann, Gomez, Seyle, Morales, & Huici (2009) terhadap sekitar 600 partisipan penelitian mahasiswa Spanyol di UNED.  Eksperimen ini dilakukan secara online dalam dua gelombang yang terpisah selama kurang lebih 4 sampai 5 bulan, dimana eksperimen gelombang pertama diikuti oleh 627 partispan dan pada gelombang kedua 602 partisipan.  Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa mengaktifkan salah satu atau dua dari identitas personal/diri dan identitas sosial fused persons, akan meningkatkan keinginan mereka untuk melakukan perilaku-perilaku istimewa, seperti bertarung dan mati demi kelompok.  Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa identitas personal/diri fused persons tetap menonjol dan berfungsi sama dengan identitas sosial ketika mereka berada dalam kelompok.  Akibatnya, ketika salah satu dari  identitas personal atau identitas sosial pada individu yang mengalami identity fusion teraktivasi, keinginan mereka untuk melakukan  perilaku-perilaku ekstrem demi kepentingan kelompok akan semakin meningkat.

Pada akhirnya, fenomena serangan bom bunuh diri merupakan sebuah fenomena yang sangat kompleks dan  dipengaruhi oleh berbagai faktor yang muncul dari situasi di sekitar kita.  Fenomena yang kompleks ini membutuhkan intervensi atau penanganan yang kompleks juga dan tentunya sangat sulit untuk dilakukan.  Budaya dan agama bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk mencegah aksi-aksi bom bunuh diri, melalui intervensi dengan pendekatan identiy fusion untuk nilai-nilai yang positif.  Karena tidak ada budaya dan agama manapun di dunia ini yang menghalalkan bunuh diri, meskipun untuk tujuan-tujuan yang terlihat “baik” di mata pelakunya.

Nikki Antonio Saputra

Kepala Bidang Kajian Strategis BEM Psikologi UI

Peneliti Plan Politika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s