Parodi Politik Melankolia

Posted: June 19, 2009 in PPLAB, Psikologi Politik
Tags: ,

Sejak bulan April lalu, sebuah parodi atau drama politik mulai berlangsung dinegeri hijau yang pernah dijuluki sebagai “Macan Asia” ini. Semua orang kejar- mengejar, sikut-menyikut, dan saling berlomba-lomba agar bisa memenangi perlombaan dalam pesta demokrasi yang diadakan setiap periode 5 tahun sekali ini. Mulai dari politisi, artis, rakyat biasa, petani, bahkan pengamen pun ikut memeriahkan lomba yang juga terkenal sebagai “tempat terkejam” di dunia ini. Kenapa sampai dikatakan kejam? Karena di tempat itu, mau tidak mau, suka ataupun tidak suka, jika ingin finish dilokasi yang ingin dituju, setiap orang seolah “dipaksa” untuk menjadi pemain drama dalam dunia tersebut.

Sebelum lebih jauh membahas tentang parodi politik melankolia, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu tentang sebuah drama yang paling dinikmati oleh masyarakat Indonesia secara umum.

Gw rasa tidak ada yang bisa menyangkal bahwa sinetron merupakan tontonan yang paling laris dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Hampir semua lapisan masyarakat menyukai tontonan yang menurut gw isinya sangat murahan. Dalam beberapa workshop, seminar, dan diskusi yang membahas tentang film ataupun lagu, gw mendapatkan sebuah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia ternyata sangat menyukai sinetron-sinetron, parodi ataupun film yang ceritanya sangat melankolis, berisi tentang penindasan terhadap seseorang, ibaratnya seperti cerita cinderella. Maka, bila anda ingin sebuah sinetron, parodi ataupun film yang anda buat laris dipasaran, silahkan saja coba buat yang bertema tentang penindasan kepada seseorang. Orang yang ditindas selalu sabar dan diakhir cerita, orang tersebut akan bahagia persis seperti kisah Cinderella. Gw jamin, insya Allah, sinetron ataupun film anda akan laris dipasaran,😀

Naah, fenomena yang baru gw bahas diatas sepertinya ditangkap dengan sangat jelas oleh beberapa politisi ataupun pecinta-pecinta kekuasaan dinegeri ini. Mereka membuat sebuah “parodi” baru yang biasanya ditayangkan setiap 5 tahun sekali yang dibawa ke dunia politik. Sejak tahun 2004 yang lalu hal ini telah terjadi, dimana ketika itu tengah berlangsung pesta demokrasi 5 tahunan untuk pemilihan presiden di negeri kita ini. Saat itu yang menjadi “cinderella” dalam parodi politik melankolia itu adalah Capres SBY. Beliau menjadi orang tertindas yang seolah-olah dizalimi oleh Kandidat capres lain, Megawati. Capres SBY dicitrakan terus menerus menjadi orang yang tertindas. Episode parodi ini bermula ketika beliau mundur dari jabatan Menkopolkam pada era Presiden Megawati. Beliau mundur karena merasa kewenangannya sebagai Menteri telah diambil alih oleh sang presiden dan diputuskannya setelah berlangsung perang terbuka dihadapan publik selama 2 minggu melawan Megawati. Setelah kemundurannya ini, popularitas politiknya naik drastis , ditambah dengan keputusannya kemudian untuk menjadi capres bersama cawapres JK. Akhir cerita, beliau pun menang mutlak melawan Megawati pada pemilu 2004, setelah melakukan beberapa skenario parodi politik melankolia sebagai orang yang ditindas Megawati.

5 tahun telah berlalu, dan pemilu 2009 untuk pemilihan presiden sudah hampir sampai didepan mata. Cerita lama yang telah usang kembali diangkat dan akhir-akhir ini semakin gencar ditayangkan. Ya, parodi politik melankolia kembali tayang di dunia politik negeri ini. Dan lagi-lagi, Capres SBY yang diposisikan mendapat peran sebagai “Cinderella”. Terutama dalam sebulan terakhir ini, kisah lama parodi politik ini berisi penindasan-penidasan yang dilakukan oleh dua pasang kandidat yang menjadi lawannya dalam pemilu kali ini, yaitu pasangan JK-Win dan pasangan Mega-Pro. Masyarakat sepertinya memang belum banyak yang berubah selera sinetron atau parodinya, masih menyukai kisah “Cinderella”. Hasil survey yang diadakan oleh beberapa lembaga survey politik yang ada di Indonesia, masih menempatkan pasangan bapak SBY-Berbudi sebagai pasangan yang elektabilitasnya paling tinggi.

Tadi malam baru saja dilangsungkan putaran pertama debat capres-cawapres. Perdebatan alot yang banyak diharapkan akan terjadi tadi malam, ternyata tidak terjadi. Para pasangan terlihat seperti sedang sama-sama bermain parodi. Terlihat sekali karakter asli yang biasa mereka tampilkan dengan saling mengejek kompetitornya pada saat kampanye, hanya sedikit yang keluar. Semuanya terlihat seperti menjaga citra dan bersembunyi dibalik topeng masing-masing. Yang seru malah ketika Tv One menyiarkan perdebatan antara masing-masing tim sukses dan para panelis yang diwakili oleh Bima arya, Effendi ghazali, dan satu orang lagi gw lupa siapa orangnya. Perdebatan alot, kritik-kritik negatif, dan pernyataan yang berisi klaim kesuksesan masing-masing terus dilontarkan. Dan bisa ditebak, disana terjadi kembali parodi politik melankolia. Dua tim sukses perwakilan JK dan Mega terlihat sama-sama mengeroyok tim sukses perwakilan SBY yang diwakili oleh Rizal Malaranggeng. Rizal Malaraggeng sering sekali dipojokkan secara langsung oleh lawan-lawannya. Hebatnya, beliau menjawab seperti orang bijak yang selalu sabar meski sering dipojokkan. Beliau mempertontonkan sebuah “akting” yang sangat hebat dalam mewakili peran “Cinderella”.

Pencitraan, pencitraan, dan pencitraan terus dilakukan untuk mengambil hati masyarakat yang memang mudah bersimpati kepada orang yang “tertindas”. Padahal aslinya tidak seperti itu. Gw akui, dunia politik memang dunia paling kejam. Hari ini lo jadi teman gw, besok hari bisa jadi lo adalah musuh gw. Dunia perpolitikan Indonesia sepertinya belum memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. Dari tingkat dasar, seperti di dunia kampus, hingga tingkat elite, seperti yang sedang berlangsung sekarang ini, masih terus mengandalkan sebuah parodi politik ataupun pencitraan-pencitraan untuk bisa menang dalam sebuah pemilu. Hanya segelintir dari mereka yang menampilkan karakter asli sebagai pemimpin yang memang layak untuk memimpin rakyat-rakyatnya. Kedepan, gw sangat berharap para pemimpin ataupun calon pemimpin kita, bisa menunjukkan karakter kepribadian mereka yang asli tanpa melakukan sebuah parodi politik ataupun pencitraan-pencitraan hanya untuk menang, seperti yang dulu pernah ditunjukkan oleh Bung Karno di Indonesia, ataupun Hitler (walaupun lebih banyak merugikan orang lain) ketika dia memimpin Jerman dulu.

Tanggal 8 Juli 2009, sudah hampir tiba, dan kita akan menghabiskan waktu 5 menit untuk menentukan 5 tahun masa depan bangsa kita dalam pemilu Presiden tahun 2009 ini. Kenali calon pemimpin kita sebelum menentukan pilihan. Cermati, mana calon yang tampil dengan karakter aslinya dan memang capable untuk memimpin negeri ini.

Akhirnya selesai juga tulisan pertama gw yag berisi tentang pandangan gw terhadap dunia perpolitikan di Indonesia, setelah sempat tertunda beberapa kali.

Nikki Antonio Saputra

Direktur Operasional PPLAB UI (Political Psychology Laboratory UI)

-Jejak Sang Pemimpi-😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s