Konferensi Pers, “30 Menit dalam Tekanan” (Psygames)

Hmmh, kurang lebih 20 menit yang lalu gw baru aja melalui detik-detik yang sangat menekan psikologis gw. Gw baru aja selesai memimpin pertandingan futsal cowok antara angkatan 2006 vs ekstensi. Ketika gw menerima mandat ini, gw gak ngira kalau pertandingan bakal berjalan sepanas tadi. Sebelum pertandingan, gw dan Yudhis’08 (wasit) memanggil para kapten dari kedua tim. Setelah itu memberi masukan kepada kedua tim untuk bermain bagus, mengundi koin (bola/lapangan), dan terakhir-ini yang menjadi catatan gw-, gw bilang kepada kedua kapten, jika ingin protes, silahkan protes kepada wasit yang memberi keputusan. Sebelum memulai pertandingan, gw dan Yudhis juga berdiskusi, untuk memilih siapa yang menjadi wasit pertama dan kedua. Siapa yang menjadi wasit utama, mempunyai hak penuh untuk memberikan kartu merah atua kuning pada babak yang dia pimpin.

Selang beberapa waktu, pertandingan pun berjalan dengan tempo rendah. Hal ini hanya berjalan beberapa menit. Tidak lama setelah itu, pertandingan pun mulai memanas. Ada beberapa poin yang menjadi catatan gw selama pertandingan tadi, sekaligus klarifikasi terhadap keputusan gw dan Yudhis yang dianggap kontroversial, terutama keputusan gw secara pribadi.

Babak Pertama (wasit utama: Yudhis):

– Ada sledding tackel(benar gak sh tulisannya?hehe) yang dilakukan oleh pemain 2006 dan mengenai bola, kemudian bola bergulir keluar lapangan. Gw meniup peluit tanda pelanggaran, namun keputusan gw diabaikan dan tiba-tiba hanya dianggap out. Disini wasit utama tidak melihat adanya sledding dan menganggap bola out. Gw di protes oleh pemain 2006 dan ekstensi (kasus 1).

Penjelasan gw:

Sledding dalam pertandingan futsal tidak dibenarkan, kecuali saat pemain mau menghadang bola, pemain bersangkutan terpleset dan tidak membahayakan pemain lain. Pada kasus 1, sledding yang terjadi dilakukan secara sengaja dan membahayakan pemain lawan, walaupun sledding tersebut bersih mengenai bola. Namun hal ini tidak bisa di toleransi, bahkan kalu sangat membahayakan pemain yang menyeledding bisa diberikan kartu kuning.

– Shooting pemain 2006 yang mengenai mistar gawang dan memantul kebawah. Banyak versi yang dijelaskan oleh orang-orang mengenai hal ini. Ada yang menganggap gol dan ada yang tidak. Dalam kaca mata gw, gw tidak melihat bahwa itu gol. Karena yang gw lihat, bola memantul keluar garis batas gol. Keputusan ini memang 50:50, karena keterbatasan mata gw dan pertandingan berlangsung malam, dimana dilapangan tempat kejadian ini terjadi, lapangan dalam kondisi remang-remang tidak seperti bagian lapangan yang lain. Namun dari beberapa orang saksi yang berada didekat gawang, melihat bahwa kejadian tersebut tidaklah gol, sehingga kami berdua memutuskan tidak gol.

Babak Kedua (Wasit Utama: Nikki atw gw sendiri):

Pada babak ini, sangat banyak kejadian yang benar-benar gw sesalkan dan gak perlu terjadi. Pada babak ini sangat banyak kontroversi yang terjadi.

-Paling gw sesalkan: giliran gw mendapat mandat menjadi wasit utama  dan memegang kartu merah/kuning. Dari awal gw sudah jelaskan kepada wasit yang satu lagi, bahwa hanya wasit utama yang berhak membuat keputusan mengeluarkan kartu merah/kuning. Namun gw gak tahu ini salah siapa?. Gw yang salah memberi informasi sehingga kurang dipahami wasit ke-2 atau…(gak tahu mw ngomong apa). Kenapa gw ngomong seperti ini? Karena sejak awal babak kedua dimulai, gw seolah-olah di dikte, diajari, dan di perintah oleh wasit ke-2 untuk mengeluarkan kartu kuning/merah. Jujur, gw bingung, sampe gw berpikir, ini wasit utamanya yang mana sih? Sehingga, ketika gw di perintah untuk mengeluarkan kartu oleh wasit ke-2, gw gak ada pilihan lain selain memberikan kartu. Banyak keputusan beliau yang sangat bertentangan dengan keputusan gw. Dan jujur, gw malu kalau kami (wasit) harus adu argumen yang bertolak belakang didalam lapangan dan disaksikan oleh banyak orang. Oleh karena itu gw harus mengikuti perintah wasit ke-2 untuk mengeluarkan kartu, padahal bertentangan sama keputusan gw.

Contohnya:

Ketika gw diperintah untuk mengeluarkan kartu kuning kepada pemain ekstensi. Disana gw tidak melihat perlunya mengeluarkan kartu, karena hanya pelanggaran ringan. Namun gw akhirnya harus mengeluarkan kartu kuning dan yang di protes gw. Apa salah gw?

– Pelanggaran terhadap pemain 2006 yang berakibat cedera pada pemain yang bersangkutan dan dikatakan 50:50 oleh beberapa orang. Gw memberi kartu kuning ke-2 kemudian kartu merah. Yang terjadi? gw di protes habis-habisan, dikatain “monyet”, di paksa narik kartu merah, dan lagi-lagi karena beda keputusan dengan wasit ke-2. Akhirnya, gw narik kartu merah dan membiarkan diri gw kembali di cercah dan malu karena telah menjilat ludah gw sendiri.

Penjelasan gw:

Kejadian tersebut memang 50:50 dan berawal dari pemain 2006 yang merebut bola. Namun, ketika mereka berebut bola, kaki pemain ekstensi tersebut (entah sengaja/gak), menekel kaki pemain 2006. Ini pelangggaran keras dan pemain 2006 tersebut cedera. Ini memang 50:50, namun kalau sudah merugikan pihak lain seperti kejadian ini, maka tidak bisa di toleransi. Dan keputusan gw memberikan kartu kuning kepada pemain ekstensi, dianggap benar oleh beberapa orang yang memang mengerti peraturan, ex:kak yahya’05. Gak seperti orang-orang yang hanya bisa protes dan protes namun gak ngerti peraturan. Mengenai keputusan gw narik “kartu merah”, ini gw lakukan, benar-benar setelah gw pertimbangin matang-matang dengan melihat efek jangka panjangnya. Namun hal ini benar-benar sebuah kesalahan dan gak seharusnya gw lakukan dan gak perlu terjadi lagi. Buat yang ngajarin gw buat narik kartu merah dalam pertandingan tadi, gw hanya mw bilang itu gak ada dalam peraturan manapun. Gw mutusin hal tersebut, selain karena panik, gw juga dalam tekanan dan udah mau nyerah, serba salah, terus di cercah, dikatain “monyet” lagi, wasit gak tegas, gak becus, dan “sampah-sampah” lain yang gak seharusnya diucapkan oleh mahasiswa yang menjadi calon psikolog kepada gw.

Sambil berjalan pulang tadi, gw hanya merenung dan kembali mengevaluasi keputusan gw untuk menjadi wasit di fak. Psikologi. Banyak hal yang jadi pertimbangan gw, agar kedepan, gw gak perlu jadi wasit lagi. Toh yang gw dapat hanya cercaan, permusuhan, dan hal-hal negatif lain yang hanya merugikan gw. Lebih enak, kalau gw hanya jadi penonton atau pemain. Orang-orang gak bakal menghina dan mencercah gw. Orang-orang yang kecewa gak perlu ngemusuhin gw, dan sebagainya. Masih banyak hal yang perlu gw benahi dalam masa-masa awal gw di Psikologi. Kalau dari awal aja udah banyak yang musuhin gw hanya karena gw wasit, gw khawatir nasib gw makin gak jelas disini ke depannya.

Semoga buat orang-orang yang berada dalam lingkup pertandngan ini, ini sikap profesional untuk menilai berbagai hal dengan kaca mata objektif. Bukan karena embel-embel “ini temen gw, angkatn gw, dll”.

Untuk semua pihak yang merasa gw kecewain, gw minta maaf yang sebesar-besarnya. Gw minta toleransinya, karena gw juga manusia dan gw ngelakuin hal ini (jadi wasit), karena kecintaan gw terhadap futsal/sepakbola, khususnya dan fak.Psikologi, umumnya..

huufh..capek banget..capek fisik (karena gw wasit dalam kondisi masih sakit) dan capek perasaan karena tekanan-tekanan tadi..

(Hanya sekadar curahan isi hati gw, bukan untuk menyerang siapapun)..

Emang enak jadi wasit???

Comments
  1. tachie says:

    ejekan dan sampah2 yang diteriakin itu kan cuman ekspresi spontan penonton aj, wajar kokkk (apalagi di psikologi yang selalu celamencela dan dari sana justru jd terjalin kekeluargaannya)
    jadii, no offense banget lah buatt loooo
    seriously, coba lo tanyain deh ke orang2 yang teriakin sampah2 itu ke lo kmrn pasti ud pada lupa ato cuman jawab ’emang iya ya’ ato ‘masa sihh, ahh itu kan cuman becanda doang’ hahahaha
    intinyaaa, gak usah terlalu dipikirinlah yang kaya gitu gitu kaya lo ngatain gue aj, emang gue pernah ngamuk2 di depan lo bilang kalo gue gak suka sama ejekan lo ato terus gue langsung dendam sama lo, enggak kannnnn? heee.. hidup itu tuh udh ribet gak ush ditambah ribetlah sama yang sampah kaya gituu.. oia ad lagi, kalo mnurut lo itu keputusan bener (dan emang sesuai sm yang namanya peraturan) ya lo harus konsistenlah gak perlu takut disalahin ato dicela karna lo nganggep itu benerr, okeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
    semangat nik! smuanya ada hikmahnya kok, jadi lo tau kan gimana rasanya jd wasit di psygames, hahaha *msh untung dpt snack, mana gak dibayar lagi hehe*

    jd, mau nonton merantau bareng apahh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s